19.4.16

Pak Muhdi

Angka tak selalu menjadi tanda pada sebuah hitungan. Terkadang seribu bermakna sesuatu yang banyak, sesuatu yang tak terbayangkan untuk mulai dicacah. Sheherazade menciptakan angka 1001 malam yang menyelamatkan hidupnya dengan dongeng, menghindari hukuman dari sang raja. Di Persia, tempat matematika berkembang dan diyakini, angka itu terasa seperti mitos.

Seribu lain berada di Jakarta bagian utara. Sekumpulan gugus karang dan peradaban membentuk kepulauan seribu, sebentuk tanah administratif bagian dari daerah khusus ibukota, garis pantai yang tak habis-habisnya dibicarakan. Tentu saja, angka seribu pada kata kepulauan seribu bukan menunjukkan banyaknya pulau. Angka itu berarti jumlah yang jamak; daratan, manusia, dan kisah-kisah yang menghidupinya.

Satu dari pulau-pulau itu adalah Pulau Pramuka. Tidak ada catatan yang bisa disimak tentang sejarah nama Pramuka. Gerakan kepemanduan yang diinisiasi oleh Lord Baden-Powell ini terlanjur meluas sampai Indonesia yang memiliki 17.000 daratan. Kegiatan alam terbuka Praja Muda Karana ini barangkali telah sampai ke kepulauan seribu.

Dalam cerita lain, Pulau Pramuka adalah tempat kedua setelah Pulau Panggang yang berada di sebelah barat. Pulau itu lebih dulu menjadi padat, lalu sebagian orang menciptakan diaspora kecil, berpindah ke timur dan menghuni pulau tetangga. Karena pulau ini merupakan habitat baru, maka semua menjadi mudah ditata, fasilitas publik bisa direncanakan di sana. Dengan aturan dan otonomi, pulau ini ditetapkan sebagai pusat pemerintahan kepulauan seribu.

Budaya pulau pada awalnya dibentuk dari pertemuan-pertemuan. Siapapun yang berburu di tengah laut membutuhkan sandaran kapal dan tubuh yang lelah. Waktu berburu yang lama membuat nelayan berkoloni dengan perbincangan. Di tengah laut yang begitu luas, mereka menepi agar tak lupa daratan. Di tengah daratan yang sempit, mereka disatukan perbedaan latar belakang dan tempat asal. Jadi tak ada pribumi di antara mereka.

Sekarang mari lupakan kata pribumi.

Setiap orang adalah asing untuk orang lain. Konsep suku dan ras yang berkumpul dalam negara memang tampak janggal bahkan tabu untuk dihadirkan dalam dialog. Ketika bertetangga tak lagi tunggal dalam identitas, sebenarnya yang tampak beda sudah dirayakan melalui interaksi
Warung Pak Muhdi dan Anak Tetangganya

Pada malam yang hampir jadi pagi, saya sempat merayakan interaksi dengan Pak Muhdi. Ia adalah satu dari kerumunan penduduk pulau yang mengisi kesenjangan waktu di antara kesibukan melayani wisatawan. Laki-laki berumur kepala lima ini menjelaskan beberapa hal ketika ia sedang memancing. Dengan lilitan benang dan umpan berwarna terang, ia bersahabat untuk bercerita tentang keluarganya.

Ia merupakan pemilik warung kecil di pinggir pantai yang menghadap ke barat. Usahanya berjualan adalah sumber penghasilan utamanya. Menurutnya, memancing hanya mengisi waktu luang saja. Jika ada hasil dari hobinya itu, biasanya hanya untuk dikonsumsi bersama istri dan anak-anaknya.

Pulau Pramuka telah menghidupi Pak Muhdi. Kedua anaknya telah selesai bersekolah. Di Pulau Pramuka dan sekitarnya, pendidikan dasar bukan hal yang langka. Orang-orang bisa mendapatkannya hingga SMA. Setelah tamat SMA, mereka bisa bekerja untuk orang tuanya atau menjadi tenaga bantu a la kadarnya. Perguruan tinggi terlalu samar bahkan utopis.

Setiap Pelaut seperti Pak Muhdi mahir membaca bintang untuk kepentingan navigasi. Malam itu ia bercerita tentang jalur pelayaran dan tempat menangkap ikan. Walaupun saat ini cuaca dan musim punya kebiasaan di luar pola dan membentuk anomali, namun ia masih memahami pergantian pasang dan surut air laut.

Setelah malam semakin tua, Pak Muhdi pamit menuju ke rumahnya. Saya pun sudah mulai mengantuk. Sebelum tidur, baris-baris puisi Chairil Anwar, "Cintaku Jauh Di Pulau" lamat-lamat dieja imajinasi:

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"


Tapi kini Pak Muhdi sudah tidak melaut.


9.12.15

Aceh Lon Sayang



Masjid Raya Baiturrahman yang sedang direnovasi. Masjid ini tak hanya jadi penanda di Kotaraja melainakan tempat yang mencatat cerita-cerita jamaah di Serambi Mekah.



Sebuah kabar datang dari jauh. Permintaan pulang dari seorang ibu di Lhoksumawe kepada anaknya yang berada di Jakarta. Pesan itu adalah perintah untuk memimpin pemindahan kuburan massal sisa Daerah Operasi Militer dengan jasad yang telah jadi tulang belulang untuk orang-orang yang dianggap pengikut Gerakan Aceh Merdeka.
Sang anak yang berada dalam jarak pada akhirnya mengiyakan untuk kembali ke kampung halamannya, mencari sisa kenangan pada tengkorak sahabat karibnya yang tertembak tepat di tempurung kepala, dan menyelesaikan pemakaman yang masif itu secara agama; memandikan, memakaikan kain kafan, lalu menguburkan satu-persatu mayat yang teridentifkasi a la kadarnya.
Nukilan fiksi ini adalah bagian cerita pendek Dua Tengkorak Kepala yang ditulis Motinggo Busye. Ada pengalaman pulang yang tak biasa karena masa lalu ditemukan dalam bercak darah yang mengering dan tragedi menjadi materi lisan yang dituturkan sehari-hari. Yang tertinggal dari cerita itu adalah sejarah tak mutlak menjadi milik pemenang. Ia milik orang-orang yang berani pulang menemui kenyataan yang tak selamanya indah, ingatan-ingatan yang menggugurkan romantisme.
Namun Aceh yang saya jumpai kemarin bukanlah Aceh yang muram.
Sebagai liyan yang memandang, orang asing yang sampai pada daratan baru, Aceh yang saya temukan adalah tempat untuk bertukar sapa dalam pertemuan, bertukar nama dalam perkenalan, dan bertukar cerita menjelang kembali. Di sana tak terlihat lagi sisa permusuhan. Setiap dialog berujung pada persahabatan baru.
Di kota itu, setiap kata pada lirik Aceh Lon Sayang tak akan terlewatkan untuk dinyanyikan. Setiap orang dengan syahdu mencintai tanah kelahirannya;
Daerah aceh , Tanoh lon sayang..
Nibak teumpat nyan, lon udep matee..
Pada bait pertama lagu ini, kehidupan dan kematian disandingkan untuk menganggap dua hal itu bukanlah sebentuk pertentangan. Keduanya membuat Aceh hadir dalam semangat: Daerah Aceh, tanah ku sayang, di tempat itu aku hidup dan mati. Bahkan kata "mati" pada lagu itu diulang hingga tiga kali. Ia bukanlah perpisahan yang menakutkan, justru pertemuan dengan kehidupan baru yang akrab, pengorbanan untuk tanah tercinta.
Di Aceh saya menyempatkan diri menikmati Pulau Weh.
Perjalanan saya lakukan tanpa rencana. Saya berharap bertemu rombongan yang lebih banyak agar terasa cair dan tak terlihat tersesat. Saya menikmati perjalanan tanpa tujuan untuk percaya apa yang pernah ditulis Igor Stravinsky pada L'Histoire du soldat: Kadang orang memilih berjalan tanpa tujuan. Karena tujuan menutup kebebasan.
Saya menemui beberapa teman perjalanan untuk menikmati Sabang. Tetapi bergabung dalam rombongan bisa berarti menemui kesalahpahaman karena kesepakatan tak pernah utuh. Pada sebuah malam, kami yang sudah berada di pantai Iboih dan memesan tempat menginap, berjanji bertemu orang lain di kota Sabang. Dengan sisa jam sewa mobil, kami menuju kota Sabang. Selesai perjumpaan itu, sembilan orang yang akan kembali lagi menuju Iboih tidak menemukan kendaraan pulang karena waktu pinjam kendaraan telah habis dan berharap pada orang baru yang kami jumpai bisa mengantarkan kami ke penginapan. Harapan berubah menjadi komunikasi yang membingungkan.
Dengan jasa baik teman yang lain, kami diantarkan dari pusat kota menuju penginapan di Iboih. Untuk menghilangkan kekecewaan, sepanjang jalan menuju Iboih, di mobil dengan kap terbuka kami menyanyikan lagu-lagu yang pernah diajarkan di sekolah, mulai dari Bungong Jeumpa hingga Tanah Airku. Sungguh, hari itu kami merayakan 20 kilometer perjalanan di dekat nol kilometer Indonesia yang mengharukan.
Dan malam semakin malam.
Mudahnya orang-orang menebar senyum adalah dekatnya mereka dengan agama yang Rahmatan Lil Alamin, bukan hanya menegaskan bahwa senyum adalah ibadah dengan ikhtiar bibir yang menekuk bisa meluruskan banyak hal, namun barangkali keakraban dengan pendatang akan menghapus keterasingan dan melupakan konflik masa lalu. Aceh seperti ibu yang menyambut anaknya pulang.
Pada abad terdahulu, Hamzah Fansury, seorang sufi dari Fansur, kota di selatan Banda Aceh pernah mencari Tuhan, riwayat mencatatnya dalam potongan puisi:
Hamzah Fansury di dalam Mekkah
Mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus terlayu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
Sepertinya, Tuhan tidak hadir dalam tiap rumah di tanah Serambi Mekah. Dia hadir dalam senyum dan tawa orang-orang yang menyapa.
Akhirnya, dengan sisa perasaan rindu untuk kembali, saya masih mengingat senyummu, perempuan berkerudung warna cokelat.

4.7.15

Pengantar Baca Untuk Pameran “Hidangan Dari Langit” -25 Tahun Berkarya PM TOH


Syahdan, suatu malam ketika ramadhan, Muhammad yang kala itu sedang menyendiri dalam goa didatangi oleh Jibril. Dengan pelukan yang begitu menakutkan, Jibril datang bersama perintah dan amanat untuk seluruh manusia dan kelak perintah itu berkembang lalu dibukukan menjadi kitab suci. Jibril datang membawa risalah dan kata kerja: Bacalah!
Tentu saja, kata itu tak bisa diberikan secara tunggal. Kata itu menjadi tempat berpijak untuk kalimat selanjutnya yang menggiring pada tafsir agar semua bertanggung jawab ketika mengeja; ketika membaca diawali dengan melihat rangkaian aksara. Dan kalimat setelah itu adalah Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu.
Pada Ramadhan yang lain, 14 tahun lebih pasca pesta millenium kedua, seorang pencerita –lebih tepatnya seorang pendongeng- mencoba mematuhi perintah Tuhan itu. Ia membaca lembaran-lembaran kitab suci, memahami beberapa bahasa dan arti, menjelajah kalimat-kalimat dari kalam yang hampir jadi puisi, lalu jatuh hati tentang pekerjaan Tuhan; bagaimana Ia mencipta semesta.
Pendongeng itu selalu berbagi cerita pada pendengarnya tentang ayat-ayat. Ia sering menyisipkan pesan Tuhan ke dalam dongengnya. Al Quran pun bukan buku baru yang ia pernah baca. Dari kampung halamannya di Sabang, Aceh, ia sering mengaji, membaca huruf-huruf hijaiyah dari kanan, menerima ajaran guru yang menguatkan ajaran agama.
Karena dongeng bekerja melalui kata-kata, mengubah teks menjadi konteks, kali ini, ia memamerkan apa yang ia baca, mengubah yang sudah konteks menjadi kompleks visual. Ia tertarik menerjemahkan tafsir kitab suci ke dalam gambar dua dimensi. Ia merasa ingin selalu bermain-main pada bentuk, pada warna dan garis yang berkelindan dalam imajinasinya, seperti Tuhan yang bermain-main dengan wujud dan penciptaannya ketika bumi mulai ditata.
Pendongeng itu bernama Pm Toh. 
Ada banyak ayat yang menjelaskan kerja Tuhan menciptakan langit, bumi, dan segala kehidupan diantara keduanya. Ia memilih beberapa untuk dibaca, memilih keheranan dan barangkali keraguan yang ia kekalkan pada ayat Tuhan. Ia tahu, keraguan akan membawa pada iman; keyakinan yang membuatnya takjub pada isi dunia.
Ia memilih 12 ayat yang berarti ada 12 foto yang ia buat untuk pameran ini. Walaupun 12 foto ini masih jauh mewakili imu pengetahuan tentang alam dan yang sains, namun 12 foto ini sudah mengawali pembacaannya pada dunia sekitar, pembacaannya untuk anak-anak yang selalu ia dongengkan, persis ketika Jibril memberi kabar untuk Muhammad.

21.4.15

Kepada Perempuan Di Dalam Baliho

Perempuan Dalam Baliho


Kepada perempuan di dalam baliho,
Kau sendirian, aku ingin menghiburmu dengan cerita. Semoga niatku ini ikut menambah kecantikanmu.
Kau pasti tak pernah membaca. Karena begitu sulit mencari waktu untuk membaca, sementara dirimu harus terus bergaya di dalam gambar, mematung dan tak boleh bergerak. Maka aku ceritakan padamu perihal baliho dan seseorang yang bernama Asih.
Suatu pagi, Asih mendapati bercak lipstik di pakaian dalam suaminya. Pikirannya hanya membayangkan sebuah skandal, sebuah perselingkuhan. Dengan kemarahan, Asih mendatangi suaminya yang sedang berada di kantor. Suami Asih hanya seorang sales kosmetik. Dalam perjalanan menuju kantor suaminya, Asih melihat model iklan lipstik pada baliho yang melambungkan hayalan karena gambar bibir yang basah dan setengah terbuka. Singkat cerita, ia hanya menghidupkan beberapa imajinasinya untuk membunuh suaminya. Beruntunglah cerita berakhir dengan adegan merayu dan terhindar dari tragedi.
Cerita itu diberi judul Bibir Yang Merah Basah dan Setengah Terbuka. Pengarang ceritanya bernama Seno Gumira Ajidarma. Jika kau tak menjadi perempuan dalam baliho lagi, akan aku kenalkan kau dengannya.
Cerita pendek yang aku ceritakan kembali tadi memang terlampau pendek. Aku hendak mengabarimu bahwa baliho akan membentuk gambaran dibalik gambar. Setiap orang yang melihat iklan besar akan menatap beberapa detik yang mereka punya untuk kagum atau pura-pura tidak tahu. Tapi jika kau selalu tersenyum manis dengan tatapan yang menolak, bukan tak mungkin, kekaguman akan berlanjut.
Hari ini tanggal 21 April. Di dalam gedung-gedung yang berada di dekatmu ada perempuan yang sedang merayakan hari istimewa dengan berkebaya. Hari ini adalah pesta kelahiran Kartini, pahlawan nasional yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh kesetaraan dengan laki-laki dan menolak feodalisme juga poligami. Setidaknya sejarah mengatakan begitu.
Kuceritakan padamu tentang Kartini.
Kartini adalah anak Bupati Jepara yang menikah dengan Bupati Rembang, saudara tua perempuannya menikah dengan Patih Kendal, dan adiknya menikah dengan Bupati Tegal. Bisa kau bayangkan, Kartini bukan perempuan biasa. Ia bagian dari kaum ningrat di Jawa, priayi yang tak akan memutus silsilah.
Pada awal abad 20, Kartini banyak menulis surat yang berisi tentang kegelisahannya sebagai perempuan yang dihilangkan hak nya untuk berpendidikan dan harus mengikuti apapun keinginan kerajaan. Surat-surat itu ditujukan untuk sahabat pena-nya di Belanda.
Apakah arti sebuah surat yang berisi “curhat”? Kartini membuat surat dan mengirimnya berkali kali, setiap lekukan kertas dan huruf-huruf yang ia susun ada semangat untuk melawan yang mengekang dan meminta yang telah hilang. Dalam hidupnya yang singkat, ia pernah melawan aturan “memenjarakan” perempuan pasca umur 12 tahun..
Kepada perempuan di dalam baliho,
Berapa umurmu? Mengapa kau tak meniru Kartini untuk menolak pingitan dari kuasa laki-laki dan hegemoni? Kartini dipenjara dinding kamar dan budaya raja pada masanya. Sementara satu abad lebih setelah peristiwa itu kau hanya menjadi perempuan yang dikurung oleh budaya membeli.
Kepada perempuan di dalam baliho,
Siapa namamu?

20.9.14

Kemayoran


Tintin baru saja mendarat di bandara Kemayoran. Bersama Snowy, Capt. Haddock dan Prof. Kalkulus mereka mendatangi Jawa. Waktu itu Jakarta adalah transit bagi Herge, seorang pembuat cerita yang tak pernah ke Indonesia. Kisah itu digambarkannya pada seri Tintin “Penerbangan 714”.
Di sana ada Kemayoran, sebuah wilayah terbatas –bahkan tak tampak bentang alamnya- yang hanya didatangi beberapa jam. Kemayoran yang dituliskan pada komik hanyalah bandara, tentu saja tidak ada yang berharga dari sebuah terminal, namun ruang transit tak bisa diabaikan begitu saja. Dalam singgah yang sementara, ada kedatangan dan keberangkatan yang disatukan.
Pada Kemayoran, saya juga pernah menitip singgah. Beberapa saat lalu saya menjadi relawan fotografer untuk Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-3 di SDN 02 Petang. Dalam beberapa jam, saya menemani relawan pengajar yang menjadi guru sehari di sana. Kemayoran yang saya datangi sepeti analogi umum yang selalu diumbar; urip gur mampir ngumbe, hidup hanya mampir minum.
Di Kemayoran tak ada yang istimewa namun juga tak terlalu biasa. Dalam lingkungan padat hunian, Kemayoran adalah kompetisi dan pengakuan untuk bertahan di ibukota negara. Beberapa guru di SDN 02 Petang memiliki cerita yang sama tentang murid-muridnya yang dekat dengan kekerasan. Di Kemayoran waktu adalah waktu dan uang adalah uang. Keduanya didekatkan dengan cara seadanya.
Sejak dikeluarkan kebijakan Kartu Jakarta Pintar oleh Gubernur DKI Jakarta, sekolah dianggap menjadi penting karena sumbangan yang diterima. Setiap siswa mendapat Rp.180.000,- per bulan dari program pemerintah daerah itu, ada yang sempat tak melanjutkan sekolah namun akhirnya kembali ke SD demi uang subsidi untuk membeli baju dan sepatu. Sebagian siswa bahkan “dipaksa” untuk tidak mampu dan meminta bantuan. Sayangnya ada gaya hidup yang salah tempat; baju sekolah dan sepatu baru telah bersubtitusi dengan telepon genggam yang canggih.
Saya sempat bertemu dengan Indra, murid kelas enam yang bercita-cita menjadi ABRI (TNI). Tiap malam selepas pulang sekolah –menurut pengakuannya- ia hanya berkumpul bersama teman-temannya di warung internet dan game center, ia masih haus hiburan dan butuh banyak bermain. Begitulah caranya beradaptasi di Jakarta yang terlalu banyak menuntut dan barangkali besok ia lupa kalau pernah bercita-cita.
SD Negeri Petang memiliki waktu yang khas, mereka mulai belajar pukul 12 siang ketika petang baru saja dimulai dan berakhir pada pukul 5 sore. Dengan keadaan seperti ini, Indra dan teman-temannya tidak memiliki tidur siang, pola istirahat yang lazim dimiliki oleh anak-anak sekolah dasar, namun dengan kondisi biologis seperti ini, ia menjadi laki-laki yang selalu tidur mendekati pagi.
Sebentar lagi relawan pengajar Kelas Inspirasi akan berangkat dari Kemayoran. Saya dan teman-teman relawan telah mempersiapkan perpisahan, juga para siswa SDN 02 Petang. Sebelum meninggalkan sekolah, kami hanya menitipkan potongan kertas berbentuk bintang yang di dalamnya hanya ada dua baris tulisan; sebuah nama dan sebuah cita-cita. Di kertas berbentuk bintang itulah ada ingatan yang dikekalkan.
Sore itu, di Kemayoran yang padat, Indra bercita-cita menjadi tentara.

Kertas berbentuk bintang; sebuah nama, sebuah cita-cita