19.4.16

Pak Muhdi

Angka tak selalu menjadi tanda pada sebuah hitungan. Terkadang seribu bermakna sesuatu yang banyak, sesuatu yang tak terbayangkan untuk mulai dicacah. Sheherazade menciptakan angka 1001 malam yang menyelamatkan hidupnya dengan dongeng, menghindari hukuman dari sang raja. Di Persia, tempat matematika berkembang dan diyakini, angka itu terasa seperti mitos.

Seribu lain berada di Jakarta bagian utara. Sekumpulan gugus karang dan peradaban membentuk kepulauan seribu, sebentuk tanah administratif bagian dari daerah khusus ibukota, garis pantai yang tak habis-habisnya dibicarakan. Tentu saja, angka seribu pada kata kepulauan seribu bukan menunjukkan banyaknya pulau. Angka itu berarti jumlah yang jamak; daratan, manusia, dan kisah-kisah yang menghidupinya.

Satu dari pulau-pulau itu adalah Pulau Pramuka. Tidak ada catatan yang bisa disimak tentang sejarah nama Pramuka. Gerakan kepemanduan yang diinisiasi oleh Lord Baden-Powell ini terlanjur meluas sampai Indonesia yang memiliki 17.000 daratan. Kegiatan alam terbuka Praja Muda Karana ini barangkali telah sampai ke kepulauan seribu.

Dalam cerita lain, Pulau Pramuka adalah tempat kedua setelah Pulau Panggang yang berada di sebelah barat. Pulau itu lebih dulu menjadi padat, lalu sebagian orang menciptakan diaspora kecil, berpindah ke timur dan menghuni pulau tetangga. Karena pulau ini merupakan habitat baru, maka semua menjadi mudah ditata, fasilitas publik bisa direncanakan di sana. Dengan aturan dan otonomi, pulau ini ditetapkan sebagai pusat pemerintahan kepulauan seribu.

Budaya pulau pada awalnya dibentuk dari pertemuan-pertemuan. Siapapun yang berburu di tengah laut membutuhkan sandaran kapal dan tubuh yang lelah. Waktu berburu yang lama membuat nelayan berkoloni dengan perbincangan. Di tengah laut yang begitu luas, mereka menepi agar tak lupa daratan. Di tengah daratan yang sempit, mereka disatukan perbedaan latar belakang dan tempat asal. Jadi tak ada pribumi di antara mereka.

Sekarang mari lupakan kata pribumi.

Setiap orang adalah asing untuk orang lain. Konsep suku dan ras yang berkumpul dalam negara memang tampak janggal bahkan tabu untuk dihadirkan dalam dialog. Ketika bertetangga tak lagi tunggal dalam identitas, sebenarnya yang tampak beda sudah dirayakan melalui interaksi
Warung Pak Muhdi dan Anak Tetangganya

Pada malam yang hampir jadi pagi, saya sempat merayakan interaksi dengan Pak Muhdi. Ia adalah satu dari kerumunan penduduk pulau yang mengisi kesenjangan waktu di antara kesibukan melayani wisatawan. Laki-laki berumur kepala lima ini menjelaskan beberapa hal ketika ia sedang memancing. Dengan lilitan benang dan umpan berwarna terang, ia bersahabat untuk bercerita tentang keluarganya.

Ia merupakan pemilik warung kecil di pinggir pantai yang menghadap ke barat. Usahanya berjualan adalah sumber penghasilan utamanya. Menurutnya, memancing hanya mengisi waktu luang saja. Jika ada hasil dari hobinya itu, biasanya hanya untuk dikonsumsi bersama istri dan anak-anaknya.

Pulau Pramuka telah menghidupi Pak Muhdi. Kedua anaknya telah selesai bersekolah. Di Pulau Pramuka dan sekitarnya, pendidikan dasar bukan hal yang langka. Orang-orang bisa mendapatkannya hingga SMA. Setelah tamat SMA, mereka bisa bekerja untuk orang tuanya atau menjadi tenaga bantu a la kadarnya. Perguruan tinggi terlalu samar bahkan utopis.

Setiap Pelaut seperti Pak Muhdi mahir membaca bintang untuk kepentingan navigasi. Malam itu ia bercerita tentang jalur pelayaran dan tempat menangkap ikan. Walaupun saat ini cuaca dan musim punya kebiasaan di luar pola dan membentuk anomali, namun ia masih memahami pergantian pasang dan surut air laut.

Setelah malam semakin tua, Pak Muhdi pamit menuju ke rumahnya. Saya pun sudah mulai mengantuk. Sebelum tidur, baris-baris puisi Chairil Anwar, "Cintaku Jauh Di Pulau" lamat-lamat dieja imajinasi:

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"


Tapi kini Pak Muhdi sudah tidak melaut.


9.12.15

Aceh Lon Sayang



Masjid Raya Baiturrahman yang sedang direnovasi. Masjid ini tak hanya jadi penanda di Kotaraja melainakan tempat yang mencatat cerita-cerita jamaah di Serambi Mekah.



Sebuah kabar datang dari jauh. Permintaan pulang dari seorang ibu di Lhoksumawe kepada anaknya yang berada di Jakarta. Pesan itu adalah perintah untuk memimpin pemindahan kuburan massal sisa Daerah Operasi Militer dengan jasad yang telah jadi tulang belulang untuk orang-orang yang dianggap pengikut Gerakan Aceh Merdeka.
Sang anak yang berada dalam jarak pada akhirnya mengiyakan untuk kembali ke kampung halamannya, mencari sisa kenangan pada tengkorak sahabat karibnya yang tertembak tepat di tempurung kepala, dan menyelesaikan pemakaman yang masif itu secara agama; memandikan, memakaikan kain kafan, lalu menguburkan satu-persatu mayat yang teridentifkasi a la kadarnya.
Nukilan fiksi ini adalah bagian cerita pendek Dua Tengkorak Kepala yang ditulis Motinggo Busye. Ada pengalaman pulang yang tak biasa karena masa lalu ditemukan dalam bercak darah yang mengering dan tragedi menjadi materi lisan yang dituturkan sehari-hari. Yang tertinggal dari cerita itu adalah sejarah tak mutlak menjadi milik pemenang. Ia milik orang-orang yang berani pulang menemui kenyataan yang tak selamanya indah, ingatan-ingatan yang menggugurkan romantisme.
Namun Aceh yang saya jumpai kemarin bukanlah Aceh yang muram.
Sebagai liyan yang memandang, orang asing yang sampai pada daratan baru, Aceh yang saya temukan adalah tempat untuk bertukar sapa dalam pertemuan, bertukar nama dalam perkenalan, dan bertukar cerita menjelang kembali. Di sana tak terlihat lagi sisa permusuhan. Setiap dialog berujung pada persahabatan baru.
Di kota itu, setiap kata pada lirik Aceh Lon Sayang tak akan terlewatkan untuk dinyanyikan. Setiap orang dengan syahdu mencintai tanah kelahirannya;
Daerah aceh , Tanoh lon sayang..
Nibak teumpat nyan, lon udep matee..
Pada bait pertama lagu ini, kehidupan dan kematian disandingkan untuk menganggap dua hal itu bukanlah sebentuk pertentangan. Keduanya membuat Aceh hadir dalam semangat: Daerah Aceh, tanah ku sayang, di tempat itu aku hidup dan mati. Bahkan kata "mati" pada lagu itu diulang hingga tiga kali. Ia bukanlah perpisahan yang menakutkan, justru pertemuan dengan kehidupan baru yang akrab, pengorbanan untuk tanah tercinta.
Di Aceh saya menyempatkan diri menikmati Pulau Weh.
Perjalanan saya lakukan tanpa rencana. Saya berharap bertemu rombongan yang lebih banyak agar terasa cair dan tak terlihat tersesat. Saya menikmati perjalanan tanpa tujuan untuk percaya apa yang pernah ditulis Igor Stravinsky pada L'Histoire du soldat: Kadang orang memilih berjalan tanpa tujuan. Karena tujuan menutup kebebasan.
Saya menemui beberapa teman perjalanan untuk menikmati Sabang. Tetapi bergabung dalam rombongan bisa berarti menemui kesalahpahaman karena kesepakatan tak pernah utuh. Pada sebuah malam, kami yang sudah berada di pantai Iboih dan memesan tempat menginap, berjanji bertemu orang lain di kota Sabang. Dengan sisa jam sewa mobil, kami menuju kota Sabang. Selesai perjumpaan itu, sembilan orang yang akan kembali lagi menuju Iboih tidak menemukan kendaraan pulang karena waktu pinjam kendaraan telah habis dan berharap pada orang baru yang kami jumpai bisa mengantarkan kami ke penginapan. Harapan berubah menjadi komunikasi yang membingungkan.
Dengan jasa baik teman yang lain, kami diantarkan dari pusat kota menuju penginapan di Iboih. Untuk menghilangkan kekecewaan, sepanjang jalan menuju Iboih, di mobil dengan kap terbuka kami menyanyikan lagu-lagu yang pernah diajarkan di sekolah, mulai dari Bungong Jeumpa hingga Tanah Airku. Sungguh, hari itu kami merayakan 20 kilometer perjalanan di dekat nol kilometer Indonesia yang mengharukan.
Dan malam semakin malam.
Mudahnya orang-orang menebar senyum adalah dekatnya mereka dengan agama yang Rahmatan Lil Alamin, bukan hanya menegaskan bahwa senyum adalah ibadah dengan ikhtiar bibir yang menekuk bisa meluruskan banyak hal, namun barangkali keakraban dengan pendatang akan menghapus keterasingan dan melupakan konflik masa lalu. Aceh seperti ibu yang menyambut anaknya pulang.
Pada abad terdahulu, Hamzah Fansury, seorang sufi dari Fansur, kota di selatan Banda Aceh pernah mencari Tuhan, riwayat mencatatnya dalam potongan puisi:
Hamzah Fansury di dalam Mekkah
Mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus terlayu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
Sepertinya, Tuhan tidak hadir dalam tiap rumah di tanah Serambi Mekah. Dia hadir dalam senyum dan tawa orang-orang yang menyapa.
Akhirnya, dengan sisa perasaan rindu untuk kembali, saya masih mengingat senyummu, perempuan berkerudung warna cokelat.

4.7.15

Pengantar Baca Untuk Pameran “Hidangan Dari Langit” -25 Tahun Berkarya PM TOH


Syahdan, suatu malam ketika ramadhan, Muhammad yang kala itu sedang menyendiri dalam goa didatangi oleh Jibril. Dengan pelukan yang begitu menakutkan, Jibril datang bersama perintah dan amanat untuk seluruh manusia dan kelak perintah itu berkembang lalu dibukukan menjadi kitab suci. Jibril datang membawa risalah dan kata kerja: Bacalah!
Tentu saja, kata itu tak bisa diberikan secara tunggal. Kata itu menjadi tempat berpijak untuk kalimat selanjutnya yang menggiring pada tafsir agar semua bertanggung jawab ketika mengeja; ketika membaca diawali dengan melihat rangkaian aksara. Dan kalimat setelah itu adalah Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu.
Pada Ramadhan yang lain, 14 tahun lebih pasca pesta millenium kedua, seorang pencerita –lebih tepatnya seorang pendongeng- mencoba mematuhi perintah Tuhan itu. Ia membaca lembaran-lembaran kitab suci, memahami beberapa bahasa dan arti, menjelajah kalimat-kalimat dari kalam yang hampir jadi puisi, lalu jatuh hati tentang pekerjaan Tuhan; bagaimana Ia mencipta semesta.
Pendongeng itu selalu berbagi cerita pada pendengarnya tentang ayat-ayat. Ia sering menyisipkan pesan Tuhan ke dalam dongengnya. Al Quran pun bukan buku baru yang ia pernah baca. Dari kampung halamannya di Sabang, Aceh, ia sering mengaji, membaca huruf-huruf hijaiyah dari kanan, menerima ajaran guru yang menguatkan ajaran agama.
Karena dongeng bekerja melalui kata-kata, mengubah teks menjadi konteks, kali ini, ia memamerkan apa yang ia baca, mengubah yang sudah konteks menjadi kompleks visual. Ia tertarik menerjemahkan tafsir kitab suci ke dalam gambar dua dimensi. Ia merasa ingin selalu bermain-main pada bentuk, pada warna dan garis yang berkelindan dalam imajinasinya, seperti Tuhan yang bermain-main dengan wujud dan penciptaannya ketika bumi mulai ditata.
Pendongeng itu bernama Pm Toh. 
Ada banyak ayat yang menjelaskan kerja Tuhan menciptakan langit, bumi, dan segala kehidupan diantara keduanya. Ia memilih beberapa untuk dibaca, memilih keheranan dan barangkali keraguan yang ia kekalkan pada ayat Tuhan. Ia tahu, keraguan akan membawa pada iman; keyakinan yang membuatnya takjub pada isi dunia.
Ia memilih 12 ayat yang berarti ada 12 foto yang ia buat untuk pameran ini. Walaupun 12 foto ini masih jauh mewakili imu pengetahuan tentang alam dan yang sains, namun 12 foto ini sudah mengawali pembacaannya pada dunia sekitar, pembacaannya untuk anak-anak yang selalu ia dongengkan, persis ketika Jibril memberi kabar untuk Muhammad.

21.4.15

Kepada Perempuan Di Dalam Baliho

Perempuan Dalam Baliho


Kepada perempuan di dalam baliho,
Kau sendirian, aku ingin menghiburmu dengan cerita. Semoga niatku ini ikut menambah kecantikanmu.
Kau pasti tak pernah membaca. Karena begitu sulit mencari waktu untuk membaca, sementara dirimu harus terus bergaya di dalam gambar, mematung dan tak boleh bergerak. Maka aku ceritakan padamu perihal baliho dan seseorang yang bernama Asih.
Suatu pagi, Asih mendapati bercak lipstik di pakaian dalam suaminya. Pikirannya hanya membayangkan sebuah skandal, sebuah perselingkuhan. Dengan kemarahan, Asih mendatangi suaminya yang sedang berada di kantor. Suami Asih hanya seorang sales kosmetik. Dalam perjalanan menuju kantor suaminya, Asih melihat model iklan lipstik pada baliho yang melambungkan hayalan karena gambar bibir yang basah dan setengah terbuka. Singkat cerita, ia hanya menghidupkan beberapa imajinasinya untuk membunuh suaminya. Beruntunglah cerita berakhir dengan adegan merayu dan terhindar dari tragedi.
Cerita itu diberi judul Bibir Yang Merah Basah dan Setengah Terbuka. Pengarang ceritanya bernama Seno Gumira Ajidarma. Jika kau tak menjadi perempuan dalam baliho lagi, akan aku kenalkan kau dengannya.
Cerita pendek yang aku ceritakan kembali tadi memang terlampau pendek. Aku hendak mengabarimu bahwa baliho akan membentuk gambaran dibalik gambar. Setiap orang yang melihat iklan besar akan menatap beberapa detik yang mereka punya untuk kagum atau pura-pura tidak tahu. Tapi jika kau selalu tersenyum manis dengan tatapan yang menolak, bukan tak mungkin, kekaguman akan berlanjut.
Hari ini tanggal 21 April. Di dalam gedung-gedung yang berada di dekatmu ada perempuan yang sedang merayakan hari istimewa dengan berkebaya. Hari ini adalah pesta kelahiran Kartini, pahlawan nasional yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh kesetaraan dengan laki-laki dan menolak feodalisme juga poligami. Setidaknya sejarah mengatakan begitu.
Kuceritakan padamu tentang Kartini.
Kartini adalah anak Bupati Jepara yang menikah dengan Bupati Rembang, saudara tua perempuannya menikah dengan Patih Kendal, dan adiknya menikah dengan Bupati Tegal. Bisa kau bayangkan, Kartini bukan perempuan biasa. Ia bagian dari kaum ningrat di Jawa, priayi yang tak akan memutus silsilah.
Pada awal abad 20, Kartini banyak menulis surat yang berisi tentang kegelisahannya sebagai perempuan yang dihilangkan hak nya untuk berpendidikan dan harus mengikuti apapun keinginan kerajaan. Surat-surat itu ditujukan untuk sahabat pena-nya di Belanda.
Apakah arti sebuah surat yang berisi “curhat”? Kartini membuat surat dan mengirimnya berkali kali, setiap lekukan kertas dan huruf-huruf yang ia susun ada semangat untuk melawan yang mengekang dan meminta yang telah hilang. Dalam hidupnya yang singkat, ia pernah melawan aturan “memenjarakan” perempuan pasca umur 12 tahun..
Kepada perempuan di dalam baliho,
Berapa umurmu? Mengapa kau tak meniru Kartini untuk menolak pingitan dari kuasa laki-laki dan hegemoni? Kartini dipenjara dinding kamar dan budaya raja pada masanya. Sementara satu abad lebih setelah peristiwa itu kau hanya menjadi perempuan yang dikurung oleh budaya membeli.
Kepada perempuan di dalam baliho,
Siapa namamu?

20.9.14

Kemayoran


Tintin baru saja mendarat di bandara Kemayoran. Bersama Snowy, Capt. Haddock dan Prof. Kalkulus mereka mendatangi Jawa. Waktu itu Jakarta adalah transit bagi Herge, seorang pembuat cerita yang tak pernah ke Indonesia. Kisah itu digambarkannya pada seri Tintin “Penerbangan 714”.
Di sana ada Kemayoran, sebuah wilayah terbatas –bahkan tak tampak bentang alamnya- yang hanya didatangi beberapa jam. Kemayoran yang dituliskan pada komik hanyalah bandara, tentu saja tidak ada yang berharga dari sebuah terminal, namun ruang transit tak bisa diabaikan begitu saja. Dalam singgah yang sementara, ada kedatangan dan keberangkatan yang disatukan.
Pada Kemayoran, saya juga pernah menitip singgah. Beberapa saat lalu saya menjadi relawan fotografer untuk Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-3 di SDN 02 Petang. Dalam beberapa jam, saya menemani relawan pengajar yang menjadi guru sehari di sana. Kemayoran yang saya datangi sepeti analogi umum yang selalu diumbar; urip gur mampir ngumbe, hidup hanya mampir minum.
Di Kemayoran tak ada yang istimewa namun juga tak terlalu biasa. Dalam lingkungan padat hunian, Kemayoran adalah kompetisi dan pengakuan untuk bertahan di ibukota negara. Beberapa guru di SDN 02 Petang memiliki cerita yang sama tentang murid-muridnya yang dekat dengan kekerasan. Di Kemayoran waktu adalah waktu dan uang adalah uang. Keduanya didekatkan dengan cara seadanya.
Sejak dikeluarkan kebijakan Kartu Jakarta Pintar oleh Gubernur DKI Jakarta, sekolah dianggap menjadi penting karena sumbangan yang diterima. Setiap siswa mendapat Rp.180.000,- per bulan dari program pemerintah daerah itu, ada yang sempat tak melanjutkan sekolah namun akhirnya kembali ke SD demi uang subsidi untuk membeli baju dan sepatu. Sebagian siswa bahkan “dipaksa” untuk tidak mampu dan meminta bantuan. Sayangnya ada gaya hidup yang salah tempat; baju sekolah dan sepatu baru telah bersubtitusi dengan telepon genggam yang canggih.
Saya sempat bertemu dengan Indra, murid kelas enam yang bercita-cita menjadi ABRI (TNI). Tiap malam selepas pulang sekolah –menurut pengakuannya- ia hanya berkumpul bersama teman-temannya di warung internet dan game center, ia masih haus hiburan dan butuh banyak bermain. Begitulah caranya beradaptasi di Jakarta yang terlalu banyak menuntut dan barangkali besok ia lupa kalau pernah bercita-cita.
SD Negeri Petang memiliki waktu yang khas, mereka mulai belajar pukul 12 siang ketika petang baru saja dimulai dan berakhir pada pukul 5 sore. Dengan keadaan seperti ini, Indra dan teman-temannya tidak memiliki tidur siang, pola istirahat yang lazim dimiliki oleh anak-anak sekolah dasar, namun dengan kondisi biologis seperti ini, ia menjadi laki-laki yang selalu tidur mendekati pagi.
Sebentar lagi relawan pengajar Kelas Inspirasi akan berangkat dari Kemayoran. Saya dan teman-teman relawan telah mempersiapkan perpisahan, juga para siswa SDN 02 Petang. Sebelum meninggalkan sekolah, kami hanya menitipkan potongan kertas berbentuk bintang yang di dalamnya hanya ada dua baris tulisan; sebuah nama dan sebuah cita-cita. Di kertas berbentuk bintang itulah ada ingatan yang dikekalkan.
Sore itu, di Kemayoran yang padat, Indra bercita-cita menjadi tentara.

Kertas berbentuk bintang; sebuah nama, sebuah cita-cita



31.8.14

Theodore

Satu hal yang menarik dari sebuah kesepian adalah pemahaman tentang kesepian itu sendiri. Memahami bentuk diam yang tak berwujud namun nyata dirasakan. Tetapi kesepian berbeda dengan kesunyian. Perbedaan itu tak pernah punya pengertian yang sahih. Setiap orang boleh mendapat penjelasan secara pribadi, karena seperti yang Chairil Anwar katakan bahwa nasib adalah kesunyian masing-masing.
Sepi dan sunyi bisa menjadi tempat bermula untuk bercerita. Theodore mengalami keduanya begitu dalam, sepi yang jadi sunyi telah berulang dengan sempurna.
Pada ruangan berwarna pastel, Theodore memperlihatkan pekerjaannya sebagai pembuat surat pesanan yang akan dikirimkan untuk seseorang yang tak pernah ia kenal –ia juga tak akrab dengan pemesannya. Theodore menjadi pengarang yang mahir. Ia kesepian sehingga dapat menguasai kata-kata. Theodore hanya perlu berbincang dengan komputer di depannya, lalu mesin itu akan mencatat ucapannya kemudian jadilah sebuah surat.
Tapi Theodore tak selamanya melindungi psikisnya dari riuh di luar diri. Dalam sebuah kesempatan, ia membuat hubungan asmara yang intim dengan sebuah sistem operasi berjenis kelamin perempuan bernama Samantha. Ya, sebuah sistem operasi komputer yang sangat cerdas secara sintesis.
Begitulah awal cerita “Her”, film ciptaan Spike Jonze itu berhasil menjaga sepi agar tetap sepi. Theodore mengukuhkan kesepian lewat perbincangannya dengan sesuatu yang berbentuk algoritma.
Seperti Theodore yang selalu menceritakan apa saja dengan Samantha, orang-orang menjadi pencerita yang terbuka pada masa ketika komputer dan internet menjadi kebutuhan sosial yang wajib. Media sosial adalah katarsis yang dianggap bijak untuk mengungkapkan apa yang terjadi hari ini.
Florence, perempuan yang merupakan bagian dari kerumunan media sosial hari ini pun melakukan hal yang biasa dilakukan oleh lain yaitu bercerita. Namun tidak seperti Theodore, Florence mengawali ceritanya dengan kekesalan yang jamak, tentang kelangkaan bahan bakar yang membuatnya mengantri lalu mengubah antrian itu menjadi sebuah tragedi. Dari sebuah SPBU di Jogja, ia mengutuk kota dan penyelenggara negara. Ia hanya bercerita melalui media sosial.
Jika kita mau menjauhi diri dari bentuk benar dan salah, maka kita akan pelan-pelan memahami cerita Florence. Siang itu tak gampang memperoleh premium karena antrian begitu panjang, ia memilih bahan bakar lain yang tak bersubsidi dengan anggapan barisan pengantri lebih sedikit karena harga yang lebih mahal. Namun ia keliru, pada antrian panjang yang ia tinggalkan ternyata menyimpan kekesalan secara kolektif. Kecemburuan menyisakan amarah pengantri yang tertib. Ketika tiba pada gilirannya untuk menerima bahan bakar, ia tak hanya berhadapan dengan petugas pengisi, melainkan akumulasi kekecewaan orang-orang di SPBU, meskipun menurut penuturannya, ia telah begitu santun memperoleh gilirannya dalam antrian.
Florence kecewa karena tidak mendapatkan apapun di sana. Ia membalas amarah orang-orang dengan amarah yang lain melalui media sosial, lalu orang-orang membalasnya kembali, dan seterusnya, dan seterusnya. Dalam dunia maya yang jauh dari tatap mata, perang mulut dan adu pendapat menjadi hidup karena setiap orang berteriak dari dalam persembunyian.
Namun adakah yang janggal dari cerita tentang kekecewaan?
Kini Florence telah meminta maaf. Mahasiswi itu mengerti ada konflik yang harus diakhiri, ada amarah yang harus berhenti. Setiap orang yang membuka diri untuk bercerita di media sosial memang harus mengimbanginya dengan membuka hati. Florence tak hanya membawa motor kecilnya ke tempat pengisian bahan bakar. Barangkali ia juga membawa kekecewaan yang lain atau malah sebentuk kesepian seperti milik Theodore, tapi yang ini belum begitu pasti.
Yang pasti ia kecewa dengan negaranya.

17.4.14

Maryam

Yoni yang berarti rahim, pada komplek candi Hindu merupakan bagian bangunan suci dan ditempatkan pada bagian tengah ruangan

Maryam mengandung tanpa persetubuhan. Perempuan suci itu cemas dan berharap pada kekuatan Tuhan untuk mencair di tengah masyarakat yang konservatif. Dalam kitab suci yang menjelaskan perkembangan janin itu, Maryan melahirkan Isa melalui rahasia.

Di malam yang pucat itu, pertemuannya dengan Jibril tak sempat menyimpulkan banyak hal. Ia sedang sakit dan berjalan ke timur menjauhi keramaian yang barangkali akan membuat pengadilan sosial untuk seorang ibu hamil tanpa pembuahan.

Pesan Jibril untuk Maryam juga terlalu sederhana : “Janganlah kamu bersedih hati..” Kabar dari Tuhan yang akhirnya membuat perempuan itu menjadi pendiam di antara pohon kurma dan anak sungai yang mengalir di bawahnya.

Kisah Maryam ini terangkum dalam satu surat yang tak semuanya membahas tentang kehamilan, di dalamnya ada kisah Zakaria yang akhirnya diberikan keturunan setelah berpuluh tahun tak mempunyai anak hingga ia merasa tua. Sesuatu yang tersirat di ayat itu: tak ada doa yang sia-sia.

Dari 98 ayat yang dinamai Maryam itu, kehamilan jadi istimewa karena disekitar peristiwa persalinan Isa yang janggal sesungguhnya ada cerita kehidupan yang sedang dikokohkan.

Namun jika kehamilan adalah peristiwa yang pasti terjadi bahkan berulang, adakah yang istimewa?

Ketika Tuhan meninggikan waktu, Ia barangkali setengah mengutuk. Tahun yang berjalan pada deret hitung menjadi abad dan meninggalkan jejak peradaban yang selalu saja beriringan dengan masalah sosial yang tak hilang begitu saja ditelan masa yang “disumpahi”Nya. Bahkan pada peradaban media sosial saat ini.

Dinda, seorang perempuan yang lahir dari rahim arus informasi boleh saja dikatakan sedang malas berbagi pada ibu hamil di dalam kereta komuter yang waktu itu ia naiki. Alasannya tidak rumit, ia sudah berangkat sepagi mungkin, dan “memperjuangkan” kursi yang ia kuasai sampai stasiun tujuan. Mungkin kejadian ini terlampau biasa dan tak akan membesar. Namun apadaya, ia terlanjur membagi ceritanya dan lupa “membagi” kursinya.

Saya percaya di dekat Dinda yang sedang menuturkan kekesalannya di media sosial, ada tanda gambar ibu hamil di sana, di deret kursi pendek dekat pintu, semiotika yang tak butuh banyak penjelasan makna.

Kereta telah jadi kebutuhan wajib penduduk di kota satelit. Mereka adalah petarung gigih yang memperjuangkan waktu, yang pada sumpah Tuhan adalah orang-orang yang merugi, tentu jika kalimatNya kita penggal sampai sini.

Dengan berbekal harapan di pagi hari dan membawa lelah untuk rumah ketika sore, penduduk kota satelit kadang dihadapkan pada sepenggal idiom Sarte bahwa “neraka adalah orang lain”, yang sampai saat ini tak saya pahami maknanya.

Kehamilan memang keadaan yang begitu wajar dan terlalu biasa, sebuah peristiwa pasca pembuahan yang alami, bahkan ketika janin membesar dan ditiupkan ruh untuknya, peristiwa ini akan tampak sederhana. Yang membuatnya istimewa karena dalam kandungan sang ibu, bayi itu tak sendiri. Ia bersama harapan pembentuk kehidupan, dan karena harapan begitu riskan menjadi kekecewaan, maka secara alami pula sang bayi yang tak bisa apa-apa dalam rahim ibunya itu berhak mendapat keisitimewaan.
...
Maryam dan Dinda terpisah kisah dan sejarah. Maryam berada pada kutub si hamil penyendiri yang awalnya begitu otonom memanggul pesan Tuhan di tengah kaum yang gelap, sementara Dinda berada dalam yang memandang kehamilan adalah hal yang wajar tanpa harus di beri ruang. Dan keduanya disatukan oleh kesamaan: masyarakat yang menghakimi.

Dalam tulisan ini, saya ikut menghakiminya.





15.2.14

Kembali Ke Mekarsari


Foto Keluarga - Relawan pengajar bersama para guru


Sebelas September, sebagian orang mengingat tragedi dunia melalu peristiwa di Amerika Serikat, namun 11 September 2013 di Tambun, ribuan kilometer jauhnya dari New York, anak-anak sekolah dasar yang berpakaian warna bendera sedang merayakan kebahagiaan. Mereka didatangi teman-teman baru yang merupakan relawan pengajar untuk membawa idiom yang tak ringan; inspirasi.

Hari itu, teman-teman baru mereka juga sedang berbahagia, memberi cerita tentang cita-cita, dongeng pekerjaan yang tak selamanya bisa dijelaskan. Di SD Negeri Mekarsari 2 Tambun, Bekasi, semua menyatu dalam suasana Kelas Inspirasi, kebahagiaan bertemu dengan kebahagiaan yang lain, suka cita yang diharapkan tak berumur pendek.

Teman baru mereka “memberikan” profesinya: pegawai bank, ahli geologi, pegawai pemerintahan, wartawan, dan yang lain. Menawarkan kausalitas jika-maka yang intim, “jika kalian belajar dengan sungguh-sungguh, maka kalian bisa menjadi apapun yang kalian mau, seperti kami, teman baru kalian.”

Tapi itu kemarin.

Hari ini, setelah kalender melewati batas tahun, anak-anak di Mekarsari masih merayakan kebahagian dengan cara biasa(nya). Mereka menjalankan yang terlanjur jadi rutin; pergi ke sekolah, berdoa sebelum belajar, bertemu guru dan mata pelajaran, istirahat sambil bermain, jajan di luar pagar, dan belajar lagi di dalam kelas, lalu pulang, formula yang tak habis-habisnya dilakukan oleh anak-anak di seluruh republik ini, anak-anak yang beruntung bertemu bangku sekolah.

Tambun adalah Karawang-Bekasi dalam makna geografis sekaligus puisi. Merasakan sekitar SDN Mekarsari 2 seperti sedang menyusun kembali apa yang pernah ditulis Chairil Anwar tentang kemerdekaan dan perintah. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”

Kenyataan di Tambun adalah riuh gema pabrik yang diawali ketika pagi baru dimulai, ketika setiap orang menerjemahkan halaman-halaman "Das Kapital", kuasa modal yang membuat Karl Marx cemas, karena “di dalam pabrik, mesin menjaga manipulasi”

Sebagian anak-anak Mekarsari menjadi rapuh dalam hegemoni industri. Bu Jumitri, wali kelas VI bercerita, setiap tahun selalu ada yang tak kembali pada ruang kelas. Ada yang memilih menjadi kernet untuk membantu orang tuanya melawan keadaan, juga ada yang (akhirnya) mengambil profesi menjadi pengamen, demi hari yang harus dibeli.

Apakah satu-satunya yang dimiliki waktu adalah pilihan?

Sebelas September bisa jadi tak berarti apapun bahkan monumental. Bagi relawan pengajar, Kelas Inspirasi barangkali euforia yang telah hilang, tapi bagi anak-anak di Mekarsari, Kelas Inspirasi adalah ingatan yang tak berhenti begitu saja. Karena mereka tak pernah tahu kemana setelah bel pulang sekolah.


Kak Alia sedang mengajar di Kelas I ketika Hari Inspirasi




3.1.14

Jogja Berhenti Nyaman, Katanya Begitu..



Di penghujung tahun 1980-an warga kota rindu Adipura, piala dari penguasa negara untuk kebersihan dan ketertiban yang dijaga, atau setidaknya tanda daerah menjaga hubungan baik dengan Jakarta. Untuk menghilangkan rindu itu, dimulailah slogan “Jogja Berhati Nyaman”

Begitulah awal tulisan Bagus Kurniawan, pewarta foto detik.com dalam pengantar katalog pameran foto Jogja Berhenti Nyaman yang diselenggarakan Pewarta Foto Indonesia Yogyakarta di Bentara Budaya, 26 – 30 Desember 2013 lalu, ketika pada akhir tahun orang-orang memilih melihat kembali hal-hal yang baik, para pewarta foto memilih melihat kota yang sedang bersedih.

Judul pameran adalah “plesetan” dari yang telah sahih. Masyarakat Jogja telah terbiasa me-modivikasi dan membuat re-kreasi idiom dan kata-kata untuk membuat lelucon, karena dari lelucon akan terjadi perbincangan yang tak kaku dan mengeras, lalu Jogja akan dinikmati dengan cara tertawa.  

Terhanyut aku akan nostalgia.

Sekarang bagaimana orang-orang bisa tertawa setelah kasus penembakan di Lapas Cebongan oleh militer bersenjata? Bagaimana bisa ceria berkendara ketika antre pada lampu pengatur lalu lintas semakin panjang? Bagaimana mengingat-ingat kejadian di cagar budaya yang hilang dan terkepung gedung besar? Dan bagaimana-bagaimana lain yang sudah menjadi bagai, sebentuk pengandaian dalam pesimis yang terselubung.

Sebuah tempat yang telah dikultus waktu menjadi kota pasti akan berubah dan berkembang, banyak teori yang melahirkan kesimpulan itu. Saya teringat jargon Dagadu –produk lokal Jogja yang terkenal, di akhir tahun 2000-an; “Kapan ke Jogja lagi? Tugu sudah gede lo sekarang, kalau ketemu pasti pangling”

Dagadu tak hendak membuat lelucon dari jargon itu, tetapi sedang menawarkan ramalan dan angan-angan yang tak sepenuhnya indah. Jika sempat berhenti di Tugu, perhatikanlah perempatan yang sudah terkepung barisan gedung tinggi yang katanya untuk kepentingan pariwisata. Tugu Jogja yang menjadi “land mark” kota budaya semakin kini semakin mengerdil dan terus jadi pendek.

Di persimpangan langkahku terhenti.

Macet Total - Bramastyo Adhy, Tribun Jogja


Gantung Tugu - Novan Jemmi Andrea, Koran Sindo

Kembali ke ruang pameran. Di depan foto Desi Suryanto, pewarta foto Harian Jogja, saya juga berhenti dan terdiam. Jogja tak hanya perubahan suasana, tapi perang perebutan kuasa visual. Di Jembatan Kewek -beberapa meter dari Malioboro yang merupakan penanda masa lalu, setiap orang berebut minta diperhatikan, atas nama polusi visual, publikasi komersil produk tak boleh ada, namun mereka yang tak senang menghantam dengan visual yang juga lebih buruk. 

Pada rangkaian serial foto “Robohnya Sekolah Kami” saya membuat pandangan sunyi seperti seorang garin yang hampir mati dalam Robohnya Surau Kami ciptaan AA Navis. Betapa menyedihkan ketika bangunan sekolah harus kalah dari kekuasaan modal dan angkuhnya hasrat memiliki. Mereka yang sedang bersekolah atau yang telah menjadi alumni di SMA dan SMP “17” 1 itu akan mengekalkan masa-masa indah yang jadi pahit ketika memulai cerita; disini itu dulu… Barangkali juga para Tentara Pelajar dan orang-orang Boedi Oetomo yang merancang kemerdekaan republik ini akan jadi muram dari dalam kematiannya karena tak ada lagi bangunan sejarah itu.

Reresik Sampah - Desi Suryanto, Harian Jogja


Dari Serial Foto "Robohnya Sekolah Kami"

Foto-foto yang dipasang di dinding Bentara Budaya waktu itu adalah gambar(an) paling jujur dari Jogja masa kini, atau lebih apa adanya dibandingkan brosur dari biro perjalanan yang berisi candi prambanan dan borobudur yang puluhan kilometer jauhnya dari batas kota Jogja.

Keluar ruang pamer, saya hanya mencoba menerka dan berteori tentang kota, ia menjadi jahat ketika menghilangkan romansa dan kenangan tanpa sisa.

Ah Jogja, berubahlah. Tapi jangan sampai saya merintih sendiri ditelan deru kotamu.





31.10.13

Kematian Indra

Bioskop semakin gelap


Sore itu di Sisilia, ada kabar yang harus disampaikan seorang ibu yang sedang cemas untuk Salvatore De Vita, anaknya yang berada di ujung telepon yang hampa. Sebuah kabar kematian. Janda itu sadar, kabar ini akan membuat anaknya terpaku tentang yang karib, tentang sebuah nama pada masa kecilnya.

Alfredo telah mangkat meninggalkan sejarah dan garis-garis pada seluloid. Garis-garis yang berkelindan dengan masa lalu mereka, yang pernah menganggap bioskop adalah “surga”. Jika film adalah puisi, maka penggalan cerita “Cinema Paradiso” ini adalah bait kecil, tentang gedung yang menyimpan bathin. Tentang Alfredo yang kini kesepian.

Alfredo adalah seorang proyeksionis bioskop yang mencintai pekerjaannya melampaui penglihatannya, sama seperti Djamsuki di bioskop Indra, Yogyakarta. Mereka telah kehilangan pekerjaannya untuk merangkai gambar gerak pada proyektor dan menghentikan sihirnya untuk penonton yang pernah terhibur pada ruangan gelap itu. 

Kini gedung bioskop dianggap seperti sampah, tanah tempat berdirinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan lain, kebutuhan lain. Kota membutuhkan lahan parkir yang luas untuk Malioboro yang tak pernah tidur, dan Indra yang berlokasi di dekat sana, harus mengalah dan membunuh kisah-kisahnya. 

Tiket terakhir


Dalam hasil penelusuran, nama Indra merupakan akronim dari Indonesia Raya, frase nasionalisme yang tak sekedar jargon negara yang baru bebas dari imprealisme. Barangkali nama itu telah menunjukkan bahwa warga negara memang membutuhkan gedung bioskop yang menghidupi siapa saja. 

Namun, zaman bergerak, pelan atau cepat, teknologi membuat siapa saja mendapatkan hiburan yang “dekat”; televisi dan pemutar cakram digital. Secara personal, hiburan sudah begitu intim tanpa harus berjalan ke luar rumah mencari bioskop. Hal-hal tadi membuat Indra tak mampu bertahan hidup karena penonton telah menemukan formula menghibur diri. Juga, Indra tak mampu berbenah diri dibanding grup 21 yang lebih mapan, lebih menguasai pasar dan distribusi film karena modal yang mapan pula. 

Foto-foto yang saya coba rangkai ini adalah catatan kunjungan saya yang hampir lampau, Oktober 2010. Inisiatif memunculkan yang lalu, setelah kini terdengar kabar, Bioskop Indra akan rata dengan tanah. Foto-foto ini tentu saja tak pernah sejajar dengan kenangan orang-orang yang pernah menyaksikan Ben Hur dan Janur Kuning dalam bioskop itu.

Dokumentasi yang membawa harapan untuk Pak Djamsuki dan teman-temannya yang menguatkan sebuah tesis Romo Mangun, bahwa bangunan itu benda mati yang memiliki jiwa. 

Sudah tutup

24.5.13

Rinjani

Di permukaan bumi ini, ketinggian diukur dari tempat yang memiliki kedalaman yang jauh, puncak gunung memiliki satuan meter dari permukaan laut, kedua tempat itu menjauh, juga mendekat pada manusia yang ingin membacanya.

3726 mdpl, angka pada peta untuk menandai puncak Rinjani, barangkali angka yang terus berubah karena relativitas yang nisbi menjauhi pusat bumi, dan angka-angka tak selamanya diam dalam buku catatan. Rinjani kini telah dewasa dan meninggalkan keturunan.


Rinjani dilihat dari Tanjung Ringgit. Tentang gunung yang dilihat dari tepi pantai


Pada sebuah pagi di Sembalun Lawang, matahari selamat datang telah merentang bayangan untuk melihat bentang alam dari tempat nun jauh berada di ujung sana. Saya hanya bisa membayangkan keletihan dan tugas berat menapak jalan. Namun, apapun yang masih berada dalam pikiran, semua akan dibuktikan oleh kenyataan. Perjalanan harus segera dimulai, sebelum malam begitu dekat.

Beberapa kilometer pertama, kaki-kaki pendaki masih menapak aspal dengan bangunan khas pabrik yang memanjang, saya hanya bisa menerka, bangunan itu adalah pelindung untuk tumbuhan pertanian yang masif. Tapi jalan beraspal yang saya injak sudah cukup memberi perkenalan, jalan yang menggali pesan, bahwa akan ada tanah yang panjang.

Pos 1 dan Arif yang mengeja keletihan


Setelah itu, perjalanan ditempuh dengan melintasi dataran padang rumput yang luas, tumbuhan perdu liar yang tak terlalu tinggi itu, memanjakan mata untuk melihat ke arah saujana yang tak berhingga jauhnya. Keletihan tak boleh berlanjut karena pemandangan yang indah tak boleh diimbangi dengan mengeluh.

Setiap perjalanan ke arah puncak gunung, selalu ditandai dengan tempat singgah yang biasa disebut pos, tempat yang menganjurkan beristirahat. Pos 1 kaki Rinjani berada di tengah sabana yang mengasyikkan, dengan duduk diam beristirahat. Setelah itu bertemu pos 2, tempat para pendaki memulai makna konsumsi. Makan siang yang akan terhidang dari ‘chef’ yang sebenarnya adalah porter pembawa beban.

Di dalam catatan saya, waktu tempuh dari pos 1 menuju pos 2 adalah 50 menit dan melintas padang rumput dengan kondisi jalan yang landai. Pada pos 2, saya beristirahat satu jam. Dua jam kemudian, tibalah di pos 3. Seperti sebuah revolusi, keadaan berubah begitu mulai mengedipkan mata. 

Dari pos ini, takkan ada lagi jalan landai dan memanjakan. Di depan sana hanya ada tanjakan yang bahkan kadang curam, kemiringan hanya bisa diduga-duga telah mencapai 45 derajat, juga akan ada bukit penyesalan yang barangkali menyimpan penyesalan telah berada di punggungan gunung yang tak menganjurkan mencari suaka.

Lalu perjalanan dilanjutkan dengan hujan yang dari tadi menunggu jatuh. Ia tak punya alibi untuk berhenti atau datang silih berganti dengan kabut dan awan-awan berwarna gelap yang tak sigap menampung air di atas sana. Tetapi, Rinjani memang harus dinikmati tanpa henti. Hujan cuma air yang melintas penutup tubuh.

Vegetasi kecil berganti jadi pepohonan yang tegak dengan ranting-ranting yang rapuh. Selain bertumpu pada akar yang menahan tanah untuk menapak tangga menuju tempat yang lebih tinggi, saya menemui beberapa batuan beku sisa letusan yang terjadi entah berapa ratus tahun silam, batuan yang menyimpan sejarahnya sendiri.

Untuk mencapai tempat yang lebih datar, luas dan menemukan pandang pada puncak gunung, saya mencatat telah menghabiskan waktu empat jam dari pos 3, tentu dengan jam istirahat yang lebih lama dan detak jantung yang cepat tanpa pola.

Menembus padang rumput

Berisitrahat di pos 2 selagi menunggu makan siang dihidangkan


Sore akan berakhir di Plawangan Sembalun dan saya tak menemukan apa yang disebut senja dan matahari tenggelam. Yang saya tahu, ada tenda yang sudah menunggu, dan saya mengakhiri ingatan pada tempat yang telah disiapkan para porter -orang-orang gunung yang menyimpan cerita persahabatan.

Dalam malam yang telah jadi malam, saya membaca dalam hati puisi Goenawan Mohamad :

“Dingin tak tercatat pada termometer.
Kota hanya basah.
Angin sepanjang sungai mengusir, tapi kita tetap saja disana.
Seakan gerimis raib dan cahaya berenang
mempermainkan warna.
Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?”

Begitulah, saya tak hendak jadi melankolis, tapi di tepi Segara Anak yang masih mengirim sinyal pada telepon genggam, ada kenangan dan hal-hal yang tak semuanya bisa dituliskan.

Cawang, Mei 2013           




Pos 3 dan seorang porter yang menunggu keputusan untuk melanjutkan perjalanan

Beberapa meter menuju plawangan.

Segara anak dan pohon edelweis