31.3.12

Rambu Solo' – Toraja dan kematian yang lekat






Puluhan lantang didirikan, ribuan tamu berdatangan, puluhan kerbau dan ratusan babi dipenggal dan upacara pun berlangsung , di Palawa dan Buntupune tak jauh dari Rantepao Tana Toraja, orang-orang itu yang begitu lekat menyatu dengan masa lalu, berkumpul dan memaknai tentang matahari yang tenggelam : kematian. Si mati pun dilepas dengan badhong-badhong yang liris berisi riwayat dan puji-pujian, kepahlawanan dikisahkan dan kebangsawanan ditegaskan. Setelah itu si mati terbang ke selatan, melayang diiringi puluhan ternak ke sebuah negeri bernama Puya, tempat leluhurnya berkumpul, dalam tongkonan-tongkonan yang sejahtera, yang sudah menunggunya.

Rambu Solo’  yang berarti asap menurun (matahari tenggelam) sebagai upacara pemberangkatan arwah menuju Puya (kampung leluhur) juga merupakan sarana untuk memperbaiki atau memulihkan hubungan keluarga (tang la napoka’tu rara tang la napoka’ buku = darah tiada putus tulang tiada retak), semua anggota keluarga mesti terlibat dalam keramaian yang mencapai angka milyaran ini. Keluarga atau persekutuan tongkonan di sini tak hanya mengacu pada keturunan (genealogis) belaka, namun juga kesatuan adat yang bisa datang dari kesatuan struktur formal di masyarakatata dari persekutuan bekerja dan berbakti, jadi semakin besar pengaruh orang yang akan diupacarakan dalam adata, semakin banyak yang terlibat. Untuk mengatasi ini tentu bukan hal mudah, pembagian tugas dan dana kegiatan bisa menjadi hal yang sensitif dan emancing perpecahan. Musyawarah besar pun diadakan puluhan kali dan menjadi fenomena tersendiri dan menarik untuk diamati, bagaimana sebuah masyarakat yang bisa dikatakan modern setidaknya dari pendidikannya berkumpul untuk berbagi beban yang kadang menurut mereka tidak rasional. Si mati lewat Rambu Solo’ bisa dianggap menjadi pahlawan dalam menyatukan keluarganya, dan keluarganya menyatukan tindakan-tindakan herois yang menyatukan kehormatannya.

Nasundan to alukna
Naupu’ bisaranna
Male titengka lentekna
Tirimba pessoyananna
Malemo nauturu’ gaun
Naempa-empa salebu’
Ullambi’mo Ponglalondong
Parannu-rannu nene’na
Sende-sende todolona
Napa’ parampoi sau’
Napa’ baenan-baenanni *

Ketika upacaranya berakhir
Acaranya telah selesai
Ia melangkahkan kakinya
Ia melenggang pergi
Berangkat bersama awan
Melayang diantara kabut
Tiba dikerajaan Pong Lalondong
Di negeri yang tak putus-putusnya
Menelan manusia
Bersukacitalah leluhurnya
Pendahulunya bersuka ria
Menyambut pembawanya
Mengumpulkan bekalnya     












* bait yang dinyanyikan pada upacara badhong Rambu Solo'