9.12.15

Aceh Lon Sayang



Masjid Raya Baiturrahman yang sedang direnovasi. Masjid ini tak hanya jadi penanda di Kotaraja melainakan tempat yang mencatat cerita-cerita jamaah di Serambi Mekah.



Sebuah kabar datang dari jauh. Permintaan pulang dari seorang ibu di Lhoksumawe kepada anaknya yang berada di Jakarta. Pesan itu adalah perintah untuk memimpin pemindahan kuburan massal sisa Daerah Operasi Militer dengan jasad yang telah jadi tulang belulang untuk orang-orang yang dianggap pengikut Gerakan Aceh Merdeka.
Sang anak yang berada dalam jarak pada akhirnya mengiyakan untuk kembali ke kampung halamannya, mencari sisa kenangan pada tengkorak sahabat karibnya yang tertembak tepat di tempurung kepala, dan menyelesaikan pemakaman yang masif itu secara agama; memandikan, memakaikan kain kafan, lalu menguburkan satu-persatu mayat yang teridentifkasi a la kadarnya.
Nukilan fiksi ini adalah bagian cerita pendek Dua Tengkorak Kepala yang ditulis Motinggo Busye. Ada pengalaman pulang yang tak biasa karena masa lalu ditemukan dalam bercak darah yang mengering dan tragedi menjadi materi lisan yang dituturkan sehari-hari. Yang tertinggal dari cerita itu adalah sejarah tak mutlak menjadi milik pemenang. Ia milik orang-orang yang berani pulang menemui kenyataan yang tak selamanya indah, ingatan-ingatan yang menggugurkan romantisme.
Namun Aceh yang saya jumpai kemarin bukanlah Aceh yang muram.
Sebagai liyan yang memandang, orang asing yang sampai pada daratan baru, Aceh yang saya temukan adalah tempat untuk bertukar sapa dalam pertemuan, bertukar nama dalam perkenalan, dan bertukar cerita menjelang kembali. Di sana tak terlihat lagi sisa permusuhan. Setiap dialog berujung pada persahabatan baru.
Di kota itu, setiap kata pada lirik Aceh Lon Sayang tak akan terlewatkan untuk dinyanyikan. Setiap orang dengan syahdu mencintai tanah kelahirannya;
Daerah aceh , Tanoh lon sayang..
Nibak teumpat nyan, lon udep matee..
Pada bait pertama lagu ini, kehidupan dan kematian disandingkan untuk menganggap dua hal itu bukanlah sebentuk pertentangan. Keduanya membuat Aceh hadir dalam semangat: Daerah Aceh, tanah ku sayang, di tempat itu aku hidup dan mati. Bahkan kata "mati" pada lagu itu diulang hingga tiga kali. Ia bukanlah perpisahan yang menakutkan, justru pertemuan dengan kehidupan baru yang akrab, pengorbanan untuk tanah tercinta.
Di Aceh saya menyempatkan diri menikmati Pulau Weh.
Perjalanan saya lakukan tanpa rencana. Saya berharap bertemu rombongan yang lebih banyak agar terasa cair dan tak terlihat tersesat. Saya menikmati perjalanan tanpa tujuan untuk percaya apa yang pernah ditulis Igor Stravinsky pada L'Histoire du soldat: Kadang orang memilih berjalan tanpa tujuan. Karena tujuan menutup kebebasan.
Saya menemui beberapa teman perjalanan untuk menikmati Sabang. Tetapi bergabung dalam rombongan bisa berarti menemui kesalahpahaman karena kesepakatan tak pernah utuh. Pada sebuah malam, kami yang sudah berada di pantai Iboih dan memesan tempat menginap, berjanji bertemu orang lain di kota Sabang. Dengan sisa jam sewa mobil, kami menuju kota Sabang. Selesai perjumpaan itu, sembilan orang yang akan kembali lagi menuju Iboih tidak menemukan kendaraan pulang karena waktu pinjam kendaraan telah habis dan berharap pada orang baru yang kami jumpai bisa mengantarkan kami ke penginapan. Harapan berubah menjadi komunikasi yang membingungkan.
Dengan jasa baik teman yang lain, kami diantarkan dari pusat kota menuju penginapan di Iboih. Untuk menghilangkan kekecewaan, sepanjang jalan menuju Iboih, di mobil dengan kap terbuka kami menyanyikan lagu-lagu yang pernah diajarkan di sekolah, mulai dari Bungong Jeumpa hingga Tanah Airku. Sungguh, hari itu kami merayakan 20 kilometer perjalanan di dekat nol kilometer Indonesia yang mengharukan.
Dan malam semakin malam.
Mudahnya orang-orang menebar senyum adalah dekatnya mereka dengan agama yang Rahmatan Lil Alamin, bukan hanya menegaskan bahwa senyum adalah ibadah dengan ikhtiar bibir yang menekuk bisa meluruskan banyak hal, namun barangkali keakraban dengan pendatang akan menghapus keterasingan dan melupakan konflik masa lalu. Aceh seperti ibu yang menyambut anaknya pulang.
Pada abad terdahulu, Hamzah Fansury, seorang sufi dari Fansur, kota di selatan Banda Aceh pernah mencari Tuhan, riwayat mencatatnya dalam potongan puisi:
Hamzah Fansury di dalam Mekkah
Mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus terlayu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah
Sepertinya, Tuhan tidak hadir dalam tiap rumah di tanah Serambi Mekah. Dia hadir dalam senyum dan tawa orang-orang yang menyapa.
Akhirnya, dengan sisa perasaan rindu untuk kembali, saya masih mengingat senyummu, perempuan berkerudung warna cokelat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar